PALAKAT Manado–Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara (BI Sulut) lakukan sinergi bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulut, melalui Fasilitas Distribusi Pangan (FDP), datangkan 2,4 ton cabai rawit dari Probolinggo.
Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Sulut, Joko Supratikto mengatakan, kebutuhan cabai rawit di Sulut cukup besar, sementara pasokan cabe tidak bisa terpenuhi dari internal Sulawesi Utara. Bergantung pada pasokan dari daerah lain misalnya Gorontalo, dan lainnya.
“Kita coba untuk menstabilkan harga, bukan menggantikan produk yang dihasilkan. Kita berupaya menyeimbangkan pasokan supaya merata”, kata Joko, Selasa (15/09/2026) di Pasar Bersehati Manado.

Joko mengungkapkan, hasil diskusi bersama TPID, preferensi masyarakat terhadap cabai yang pasokan dari luar daerah adalah yang pedasnya setara dengan cabai dari Gorontalo. “Lalu didapatlah hasil cabai dari Probolinggo”, ungkapnya.
Menurut Joko, solusi jangka pendek yang dilakukan oleh BI dan Pemda saat ini adalah, fasilitas pendistribusian kepada pengecer di beberapa pasar tradisional yang ada di Sulut.
Kepala Biro Perekonomian Sekdaprov Sulut, Reza Dotulung mengatakan, pemerintah hadir untuk memberikan bukti kehadiran negara bagi warga untuk melakukan penetrasi pangan hasil kerjasama seluruh komponen di Sulut. “Akan dilakukan secara berkala”, ujarnya saat berada di depan kios TPID Maju Pasar Bersehati.
Diungkapkan pula, dana untuk pengadaan cabe rawit tersebut, bersumber dari BI, didukung oleh satgas pangan dan Pemda Provinsi Sulut.
Berikut daftar lokasi pasar yang menjadi sasaran distribusi cabai rawit merah selain Pasar Bersehati yaitu, Pasar Pinasungkulan, Pasar Amurang, dan Pasar Airmadidi.
(Fey)








