Temukan strategi untuk merubah pola pikir dan kebiasaan agar hidup sehat dan bermutu dalam buku “Sehat Setengah Hati”.
PALAKAT Manado—Ray Wagiu Basrowi adalah dokter, peneliti, dan praktisi di bidang kedokteran kerja serta kedokteran komunitas. Mantan Jurnalis smart FM dan TVRI Manado ini, meraih gelar Doktor dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dengan penelitian tentang promosi laktasi bagi pekerja perempuan. Pada 2019, Dr Ray mendirikan Health Collaborative Center (HCC) untuk penelitian, publikasi, dan promosi kesehatan komunitas, dengan lebih dari 100 artikel ilmiah, serta 20 studi perilaku kesehatan yang telah dipublikasikan, juga menulis buku Sehat Setengah Hati, sebanyak 149 halaman yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

Kamis (31/07/2025), di Toko Gramedia Manado,Jl. Sam Ratulangi, dalam bincang buku “Sehat Setengah Hati” Dr.Ray mengungkapkan, Indonesia emas itu ternyata mulainya sudah dari 2012 yang dikenal sebagai bonus demografi, dimana populasi orang muda usia produktif itu lebih banyak dibanding orang-orang yang berusia di atas 60 tahun.
“Kenapa disebut sebagai bonus demografi karena ketika suatu negara orang yang berusia antara 25 sampai 46 tahun lebih banyak, maka negara itu akan lebih gampang berinovasi, “ujar Dr. Ray. Selanjutnya dijelaskan, tanpa disiapkan pekerjaan oleh negara, orang-orang ini akan mampu menciptakan pekerjaan baru. Itu sebabnya kenapa negara yang berhasil dapat bonus demografi pasti mereka jadi negara yang besar. Salah satu hal penting adalah kesehatan. “Karena ini akan jadi landasan kita berpikir tentang kebangsaan” ungkapnya.

Menurut Dr. Ray, bagaiman menggapai mimpi kita bersama untuk Indonesia Emas jika kondisi kesehatan anak Indonesia masih terjebak stunting, anemia kurang besi, dan Tuberculosis (TBC).
Maka, melalui buku yang ditulisnya pembaca bisa menemukan poin penting untuk menjaga kesehatan sepenuh hati atau sungguh-sungguh, bukan setengah hati agar Indonesia Emas terwujud.
“Kesehatan mental baik, maka kesehatan fisik akan lebih baik pula,” katanya. Hal ini merujuk pada ajakan untuk mencintai diri sendiri dan mau merawat serta memelihara hidup agar tidak sia-sia. Bukan hanya rajin berolah raga sehingga badan sehat tetapi, harus diimbangi dengan mental yang kuat, tidak rapuh dan mampu bersosial dengan masyarakat disekitar.
Peserta bincang sehat diajak untuk melibatkan diri berperan menuju Indonesia emas dengan menerapkan beberapa poin penting mulai dari diri sendiri. Memerangi rasa malu atau tidak biasa terhadap bahasan penyakit yang diderita serta membiasakan diri menghindari hal-hal berpengaruh buruk pada diri sendiri dan keluarga. Harus yakin tentang kerentanan (perceived Susceptibility), keparahan (perceived suverity), manfaat (perceived benevits), hambatan (perceived barriers), dan lakukan tindakan, percaya diri bahwa kita mampu bertindak dan melawan keragu-raguan.
Peserta bincang terdiri dari berbagai kalangan masyarakat dan kategori usia. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa dan lansia.
(Fey)








