Dapur Terdesak Pedasnya Harga Rica di Bumi Nyiur Melambai

banner 120x600

PALAKAT Manado–Pagi yang Indah, langitnya cerah, hiruk pikuk pasar tradisional Bersehati yang terletak di samping Dermaga Kalimas Manado, nampak jelas. Saat masuk ke dalam pasar, sejauh mata memandang, cabe rawit merah yang biasa disebut ‘rica‘ oleh warga Sulawesi Utara (Sulut), terlihat berjejer di lapak dalam ruangan, tak tersentuh sinar mentari pagi.

Tersusun memuncak menyerupai gunung kecil, di atas anyaman bambu, rica dengan warna yang menarik menjadi pusat perhatian banyak orang karena, harganya yang meroket.

“Lima pulu rica, lima puluh rica” teriak seorang pedagang rica yang serentak menurunkan harga jual yang sebelumnya ada di angka Rp. 80. 000/kg. Dirinya menawarkan dagangannya tepat di samping Kios Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang berlokasi di Pasar Bersehati.

Trend harga rica yang melambung tinggi membuat dapur para ibu terdesak.

Seorang Ibu yang mengandalkan hasil jualan makanan rumahan dengan modal seadanya mencoba menawar harga rica kepada pedagang pasar agar bisa meraup rupiah meski tak banyak, untuk mengakali kebutuhan lain yang terseret mahalnya harga rica.

Menurut Ibu Nace, dirinya harus tetap membeli rica meski harganya melambung tinggi, “mau nda mau musti beli rica, karena makanan nda enak kalo nda pedis” ungkapnya, sedikit menggunakan logat Manado. Dirinya pun mengeluhkan, usaha jualan makanannya dihentikan sementara, karena harga bahan dan bumbu dapur, mahal.

Sontak, tergambar bagaimana peran rica sebagai komoditas pangan strategis di Sulut, karena bukan hanya sekadar bumbu dapur, tetapi menjadi kebutuhan pokok dalam budaya kuliner lokal. Gejolak ekonomi akan langsung terasa hingga ke meja makan, ketika harganya beranjak naik.

Mengapa demikian? hal ini disebabkan oleh konsumsi warga yang tinggi sehingga harganya sering mengalami fluktuasi, apalagi saat kemarau panjang dan banyak lahan yang cenderung kering, mengakibatkan gangguan pasokan.

Kios TPID Maju di Pasar Tradisional Bersehati, Kota Manado

Merespon hal ini, TPID Sulut bersinergi melalui koordinasi bersama Pemerintah Daerah (Pemda) Sulut dan Bank Indonesia (BI) Sulut, serta Satgas Pangan Polda Sulut, melaksanakan Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) Cabai Rawit dari Probolinggo, Jawa Timur.

Target FDP tersebut adalah menjaga ketersediaan pasokan dan kestabilan harga ditengah menghadapi kondisi produksi yang menurun akibat kekeringan. Dengan harapan, setelah ada pasokan dari Pulau Jawa ini, bisa menjaga harga ditingkat konsumen maksimal Rp. 57.000/kg.

“Lima pulu rica, lima puluh rica” teriak seorang pedagang rica yang serentak menurunkan harga jual yang sebelumnya ada di angka Rp. 80. 000/kg, mengimbangi harga cabai yang dipasok oleh TPID. Dirinya menawarkan dagangannya tepat di samping Kios Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang berlokasi di Pasar Bersehati.

BI mengungkapkan, FDP ini sebagai penyangga, mengantisipasi kesenjangan pasokan, namun ke depan diupayakan melakukan penguatan produksi lokal, serta ketahanan pangan daerah menjadi bagian penting dari strategi pengendalian inflasi di Sulut.

“Kita mencoba untuk menstabilkan harga, bukan untuk menggantikan”, ujar Joko Supratikto, selaku Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Sulut, saat melakukan pendistribusian cabai di Pasar Bersehati.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sulut, Rahel Rotinsulu mengatakan, pendistribusian cabai ini adalah upaya pemerintah untuk membantu masyarakat menghadapi kenaikan harga, “semoga intervensi yang dilakukan TPID melalui kerjasama Pemda dan BI dapat membantu kebutuhan masyarakat terutama cabai rawit yang menjadi favorit warga sulut”, ujar Rotinsulu.

Realita kondisi pasar, saat pedagang eceran menanggapi kehadiran cabai rawit merah yang didatangkan dari luar daerah, dengan mematok harga dibawah pasaran yang biasanya. Maya namanya, Ibu pengecer ini mengakui tetap menjual cabai yang biasa disebut dengan ‘rica gorontalo’ oleh warga Sulut, dengan harga diatas Rp.100.000/kg. Dengan alasan, memang harganya demikian.

“Biar harga begini, tapi tetap orang cari. Ini rica Gorontalo”, kata Maya, dengan yakin, dagangannya akan laku, meskipun bersaing dengan cabai asal Probolinggo.

Dijelaskan pula, jika dagangannya tidak habis terjual, biasanya mereka melakukan antisipasi dengan membersihkan dari tangkainya, sehingga menjadi ‘rica pete’ (istilah orang Manado untuk cabai yang sudah dibersihkan) dan harga jualnya, menjadi lebih tinggi.

Sementara data yang disampaikan BI, untuk kondisi pasokan sampai pada, Senin (21/09/2026), belum terdapat angka yang kuantitatif defisit pasokan cabai rawit di Sulut.

Dilihat dari sisi pasokan terindikasi berada dibawah kebutuhan, dengan harga cabai rawit merah Gorontalo mencapai Rp.140.000 dan cabai rawit hijau Rp. 170.000, sampai pada (11/09/2026).

Dari sisi distribusi, mengalami penurunan produksi di daerah pemasok mengakibatkan volume yang masuk ke Sulut berkurang, padahal permintaan tetap tinggi. Kondisi kekeringan juga menjadi tantangan untuk tingginya biaya angkut, sehingga harga jual menjadi kurang kompetitif.

Melalui FGD, BI membantu biaya transportasi, sehingga komponen biaya angkut tidak dibebankan ke biaya jual dan komoditas dapat dipasarkan sesuai Harga Acuan Penjualan (HAP).

Sebagai bentuk penguatan komitmen, sinergi Pemda, BI, dan Pemangku kepentingan terus dijalankan melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) dan Kerjasama Antar Daerah (KAD), dalam menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat dan membuka alternatif sumber pasokan.

Melihat jalannya rantai distribusi, titik sumbatan terbesar yang mengakibatkan selisih harga, faktanya adalah, Gorontalo menjadi salah satu sumber pasokan yang paling diminati pasar Sulut, menyebabkan ketika pasokan Gorontalo turun, alternatif dari daerah lain tidak serta merta dapat menggantikan karena terdapat perbedaan preferensi pasar.

Selain itu, langkah konkret ditentukan agar fenomena ‘rica mahal’ tidak terus berulang setiap tahun, adalah dengan melakukan intervensi pasar bukan hanya terarah pada meredam gejolak harga dalam jangka pendek tapi juga memperkuat ketahanan pangan dari sisi produksi dan pasokan, melalui peningkatan produktivitas dan kapasitas produksi melalui pelatihan petani unggulan Sulawesi Utara (PATUA), dukungan sarana prasarana pengairan, serta persiapan PATUA terhadap perubahan iklim, melalui sekolah lapang iklim yang bekerja sama dengan stasiun klimatologi Sulut.

Selanjutnya, dalam komitmen penguatan sinergi, BI terus mendorong terbentuknya pola pasokan yang lebih terencana melalui pemetaan kalender tanam dan neraca pangan untuk mendukung pelaksanaan KAD. Sehingga, Sulut tidak bergantung hanya kepada satu daerah ketika terjadi kekurangan, melainkan telah memiliki sumber pasokan alternatif.

Berikut tren harga rica/cabe rawit merah sajak Januari—September 2026, di 15 kabupaten/kota, bersumber dari Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP),

Januari 2026: Rp. 36.150

Februari 2026: Rp. 56.304

Maret 2026: Rp. 69.611

April 2026: Rp. 69.593

Mei 2026: Rp. 47.940

Juni 2026: Rp. 91.029

Juli 2026: Rp. 54.133

Agustus 2026: Rp. 67.383

September 2026: Rp. 130.784.

(Fey/kj)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *